SURABAYA 04/03/2021–Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan setelah semua guru dan tenaga pendidik dilakukan vaksinasi maka kemungkinan pembelajaran tatap muka bisa dilakukan. 

Bahkan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim pun menargetkan vaksinasi guru akan rampung sampai akhir bulan Juni. Sehingga di bulan Juli, proses pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dilakukan. Target yang dilakukan Kemendikbud untuk para guru yang tervaksin Sinovac sekitar lima juta guru. Vaksinasi untuk guru rencananya akan dilakukan pada bulan depan.

Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Mamik Suparmi mengatakan, vaksinasi guru di Surabaya akan dilakukan serentak pada minggu depan. ”Totalnya ada sekitar 25.442 guru yang telah mengajukan vaksin. Yang rencananya minggu depan dilakukan,” katanya.

Vaksinasi itu diperuntukkan untuk guru jenjang TK, SD maupun SMP se-Surabaya yang sudah mengisi data melalui website Sistem Administrasi Guru Surabaya (SiAgus).

Terkait dengan rencana tatap muka setelah melakukan vaksinasi pada bulan Juli, Mamik mengaku belum mengetahui rencana itu. Sebab kebijakan dari pusat menurutnya belum turun ke tingkat kota. “Untuk tatap muka sendiri belum tahu, karena belum ada kebijakan terkait itu. Yang jelas guru dan tenaga pendidik fokus ke vaksin Covid-19 dulu. Dengan vaksinasi itu kami berharap dapat mendukung upaya Pemkot dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka di Kota Surabaya,” imbuhnya.

Mamik menekankan, setelah divaksin guru dan tenaga pendidik tetap menerapkan 5M protokol kesehatan. Sebab dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas itu dapat mendukung dan memperkuat vaksinasi. ”Kalau disiplin dan sudah terima vaksin, siapsiap masuk sekolah lagi,” harapnya.

Sementara itu Dewan Pendidikan Kota Surabaya Martadi menegaskan, vaksinasi terhadap guru harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh. Jangan sampai ada yang belum mendapatkan vaksin. “Tenaga pendidik dan guru harus kita pastikan dulu tervaksin jangan sampai ada yang kancrit (ketinggalan, Red) belum didata atau belum mendapatkan vaksin” tegasnya.

Martadi mengungkapkan, alasan vaksinasi guru harus menyeluruh karena berdasarkan kajian ilmiah, rata-rata guru di Surabaya banyak yang usia lanjut (lansia) di atas 40 tahun. Sehingga tingkat kerawanan penyebaran Covid-19 tinggi. “Berdasarkan sumber kajian ilmiah rata-rata guru di Surabaya usianya sudah 40 tahun ke atas,” ungkapnya.

Namun apabila pembelajaran tatap muka jadi sesuai kebijakan Kemendikbud, maka yang harus dilakukan menurutnya adalah memastikan semua sekolah sudah dalam assessment dari Tim satgas Covid-19. Kemudian pembelajaran di ruang kelas juga harus dibatasi. “Masih ada waktu sekitar lima bulan untuk menyiapkan assessment apabila dilakukan pembelajaran tatap muka,” katanya.

Namun Martadi menegaskan, untuk pembelajaran tatap muka pada bulan Juli ini sesuai dengan kebijakan Mendikbud. Dirinya mengusulkan sebaiknya Dispendik Kota Surabaya melakukan upaya simulasi tatap muka. “Kan ini tahun ajaran baru sudah dimulai, sudah ada aktivitas untuk para siswa. Jadi kalau Juli dijadikan pembelajaran tatap muka harus simulasi dulu. Baru nanti di tahun 2022 tahun ajaran baru dilakukan tatap muka,” tegasnya.

Selain itu, Martadi juga mengatakan 75 persen orang tua dan siswa berharap sekolah dilakukan tatap muka. Sehingga ketika tahap swab, assessment hingga vaksin, maka seharusnya Dispendik merancang inovasi untuk simulasi pada bulan Juli ini. (Admin/jawa pos.com)


By Admin
Dibuat tanggal 04-03-2021
62 Dilihat